Jumat, 06 Januari 2012

Museum Bala Putra Dewa Palembang I



CORAK RAGAM KEBUDAYAAN SUMATERA SELATAN

Pagi itu, minggu (26/12/10) pukul 08.30 wib aku melangkahkan kaki pergi menuju kampus tercinta, IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Raden Fatah Palembang. Pesan singkat terus mendatangi handphoneku lantaran teman-teman sudah banyak yang berkumpul. Sesampai disana kami masih harus menunggu karena dua teman lagi masih belum datang. Setelah sekian lama menunggu, kami pun berangkat dengan menaiki kendaraan umum trayek km 5.
Kami berangkat ke Museum Bala Putra Dewa Palembang yang berkaitan dengan salah satu mata kuliah kami, sosiologi. Dalam sebutanku kami mengadakan study lapangan. Tepat pukul 09.00 wib kami sampai di museum, dalam perjalanan pun ada kejadian mengelikan dan setidaknya awal mencairkan suasana, tempat tujuan kami kelewatan padahal salah satu teman kami menyadari itu (si Heru). Alhasil mobil yang kami tumpangi putar arah. Di museum, kami tidak langsung masuk karena Dosen pembimbing, Ibu Nuraini dan beberapa teman yang pergi sendiri-sendiri belum datang (R.Elysa dan Ummy K). Akhirnya kami isi kekosongan itu dengan mengobrol, ambil foto (Kipti, Vitri, Hikmah, Meri, Detri, Siti A, termasuk saya) dan ada teman yang mengisi perutnya dengan jajanan syomai (habi2, si Imed, Iwan dst).
Sekitar pukul 10.00 wib kami memulai penjelajahan kami di dalam museum dengan didampingi seorang Bapak yang berkerja sebagai karyawan museum dan Ibu Nuraini sebagai pengawas kami. Awalnya kami dikenali dahulu tentang sejarah singkat berdirinya Museum Bala Putra Dewa, museum ini dibangun pada tahun 1977 dengan arsitektur tradisional Palembang dan diresmikan pada tanggal 5 Nopember 1984. Pada mulanya museum ini bernama museum Negeri Propinsi sumatera Selatan, selanjutnya berdasarkan SK. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 4 April 1990, Museum ini diberi nama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan "Bala Putra Dewa" Nama Bala Putra Dewa itu sendiri berasal dari nama seorang raja Sriwijaya yang memerintah pada abad VIII-IX yang mencapai kerajaan maritime.
Setelah pengenalan museum, kami diajak keliling museum dengan memasuki berbagai ruang tempat berkumpulnya berbagai macam peninggalan dan miniatur benda bersejarah. Di Museum ini terdapat koleksi-koleksi yang menggambarkan corak ragam kebudayaan dan alam sumatera Selatan. koleksinya terdiri dari berbagai benda histografi, etnografi, felologi, arca, keramik, teknologi modern, seni rupa dan fauna serta geologi. Dari berbagai ruang yang kami masuki, ruang yang paling berkesan dimataku adalah ruang “Galeri Malaka” sesuai dengan namanya malaka tentu masih bersangkutan dengan negara tetanga kita yang kebanyakan orang sebut sebagai musuh bubuyutan karena banyak memakan korban TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dan meng-klaim kebudayaan Indonesia yakni Malaysia, menurutku semua itu tidak sepenuhnya kesalahan warga Malaysia. Setidaknya kita perlu mengoreksi pribadi Indonesia itu sendiri ketika pengiriman TKI dan soal klaim-mengklaim ada kewajaran juga karena bukti diruang ini terdapat sejarah hubungan negara Indonesia dengan Malaysia khususnya pada zaman kerajaan dahulu, sehingga ada saja beberapa kebudayaan kita yang berkembang di Malaysia sampai saat ini sehingga menimbulkan salah pengertian dari warganya sendiri. Agar tidak kehilangan momen, kami sempat-sempatkan untuk mengambil gambar peningalan benda-benda bersejarah itu.
Setelah puas dengan pengenalan peningalan bersejarah diberbagai ruang tersebut, kami diajak ke sebuah tempat yang paling aku tunggu-tunggu yakni ke Rumah tradisional masyarakat Palembang disebut dengan ’Rumah Limas’. Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional Palembang. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima diteras atau lantai kedua. Rumah limas asli luasnya mencapai 400 sampai 1000 m3 atau lebih, yang didirikan diatas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat. Setiap rumah terutama dinding dan pintu diberi ukiran. Kamar-kamar tidur terletak di sisi kiri dan kanan berhubungan dengan dinding luar, sedangkan bagian belakang rumah berfungsi sebagai dapur. Rumah limas Palembang merupakan rumah panggung yang bagian kolongnya merupakan ruang positif untuk kegiatan sehari-hari, seperti acara menumbuk padi. Ketinggian lantai panggung dapat mencapai ukuran 3 meter.
Selain terdapat rumah limas, tidak jauh dari rumah limas terdapat pula rumah Ulu asli, kami pun menyempatkan untuk melihat dari sisi dalamnya karena uniknya rumah ini berlantai bambu yang tersusun jarang. Tiang-tiangnya pun tidak tertanam ke tanah. Untuk memasukinya kami sangat berhati-hati takut lantainya jebol karena rumah ini sudah berusia ratusan tahun. Alhasil ketakutan kami pun sirna setelah memasuki rumah ini karena rumah ini terlihat masih lumayan kuat.
Perjalanan kami mengelilingi Museum Bala Putra Dewa pun selesai, Ibu Nuraini membimbing kami melanjutkan acara dengan diskusi. Kebudayaan masa lalu benar-benar harus kita hargai karena tanpa adanya kebudayaan dari peninggalan terdahulu, maka tidak akan mungkin kita dapat menemui berbagai macam peralatan modern pada masa sekarang karena berkat kebudayaan terdahululah, itu menjadi inspirasi awal kita dalam membangun negeri ini. Setelah acara diskusi selesai Ibu Nuraini segera meninggalkan kami. (sepertinya terburu2, *ngak sempet foto deh)
Lalu dengan perasaan lega kami meninggalkan Museum Bala Putra Dewa, ada beberapa teman yang masih ingin pergi jalan lagi kepasar, ada yang entah mau kemana, sedangkan aku dan beberapa temanku memilih langsung pulang kerumah saja. Tatapi rasanya masih ada yang kurang pada kunjunganku ke museum itu, ternyata kami lupa menanyakan nama Bapak yang mendampingi kami di museum tadi. Rasa penyesalan pun hinggap di hatiku, terima kasih Bapak X telah mendampingi kami dalam memberikan informasi dan mengenalkan berbagai hal di Museum Bala Putra Dewa.
*semoga perjalananku bermanfaat ^_~,

0 komentar:

Poskan Komentar