Rabu, 21 Maret 2012

Di Matanya Ibu




Kupandangi telegram yang barusan kubaca. Batinku galau.
Ibu sakit pik, pulanglah! Begitu satu-satunya  kalimat yang tertera disana. Mbak Sri menyuruhku pulang? Tapi.... benarkah Ibu sakit?
 Bayangan Ibu, dengan penampilannya yang trgar berkelebat. Rasanya baru kemarin aku masih melihatnya berjalan memberi makan ternak-ternak kami sendirian. Melalui padang rumput yang luas. Berputar-putar disana berjam-jam mengawasi rumah kecil kami yang hanya berupa noktah dari balik bukit.
Tidak. Ibu bahkan tidak kelihatan lelah dimalam hari, saat semua aktivitas seharian yang menguras kekuatan fisiknya berlalu. Ibu selalu kelihatan sangat kuat.
Tak hanya kuat, dari mulutnya pun masih kerap terdenga ungkapan-ungkapan pedas kususnya ditunjukan padaku.
“Jadi perempuan jangan terlalu sering melamun pik!! Bekerja, itu akan membuat tubuhmu kuat!” komentarnya suatu hari padaku.
Padah saat itu aku sama sekali tidak mengangur. Sebuah buku berada dipangkuanku. Tapi, Ibu tak pernah menghargai kesukanku membaca. Di mata beliau, itu hanyalah kegiatan tak berguna yang tak menghasilkan.
Di waktu yang lain Ibu mengecam kebiasaanku rapat dengan remaja desa. Ibu sama sekali tak mau mengerti kalu rapat yang kulakukan bukan tanpa tujuan. Bagi wanita sederhana itu, menghalau ternak lebih berguna daripada bicara panjang lebar, dan adu pendapat.
kau pakir bicara bisa membuatmu mendapatkan uang!!”
Ingin sekali saat itu aku menganggu dan menantang matanya yang sinis. (Tak tahukah Ibu dikota sana, banyak sekali pekerjaan yang mementingkan kemampuan bicara. Seharusnya Ibu melihat kegiatan pemilihan lurah desa dan tak hanya berkutat dengan ternak-ternak dipadang rumput. Pak kades takan terpilih kalau ia tak punya kemampuan bicara Bu, kemampuan meyakinkan dan menenagkan rakyatnya!)
Akan tetapi, kalimat itu anya kutelan dalam hati. Tak satu pun kumuntahkan padanya.
Caraku berpakaian pun tak pernah benar dimatanya. Ada saja yang salah, yang tak rapilah, kelihatan kelak-lakianlah, dan segalanya.
Aku heran, kenapa tiga mbakku yang semuanya perempuaan itu bisa melalui keterpasungan pemahaman Ibu. Mereka bisa seklolah, paling tidak sampai es em pe dan tak banyak bertengkar dengan Ibu. Lulus sekolah, menikah dan punyak anak... dan sekali lagi tanpa mengalami pertentangan dengan Ibu, sedangkan aku?
Dahulu sekali aku pernah mencoba menyenangkan hati wannita itu. Kucoba memasakan sesuatu untuknya, meski semua saudaraku tahu, aku benci kegitan dapur itu. Hasilnya? Aku menyesal telah mencoba karna Ibu sama sekali tak menghargai usahakku.
beginilah jadinya kalu anak perempuan Cuma bisa belajar dan belajar. Tak tah bagaimana memasak! Siapa yang mau menikahimu nanti kalau begini, pik??
Dan saat itu aku makin tersungkur dalam ketidakberdayaanku menghadapi Ibu. Perlahan aku malah berhenti berusaha menenangkan hatinya.
Aku capek, aku bosan, aku aku benci
Maka saat ada kesempatan pergi dari rumah dan meneruskan pendidikan kebangku kuliah dengan peluang bea siswa, kugempur habis kemampuanku, agar kesempatan itu tak lepas dari tangan.
Yahhh... aku harus pergi, menjauh dari Ibu dari komentar-komentarnya yang menyakitkan.
Masih terngiang suara bernada mengejek saat aku mempersiapkan diri menghadapi tes bea siswa itu.
kau tak kan berhasil, pik!! Tak usah capek-capek! Wanita akan kembali kedapur, apa pun kedudukannya!”
Tak kuhiraukan kalimat itu, seperti biasa aku berusaha menahan diri, setidaknya hingga saat ini dan saat itu aku merasa begitu yakin, wanita tua yang kupanggil Ibu selama ini, tak pernah dan tak akan pernah mencintai diriku!.
******
Pikkk .... kok melamun?”
Aku mengusap air mata yang meniti, nisa yang menagkap kesedihanku menatapku lekat. Ada nuansa khawatir pada nada suaranya kemudian.
“ada apa? Tulisanmu ada yang ditolak? Mana mungkin!” ujarnya mencoba melucu.
Aku tertawa pelan mencoa mengurangi beban dihatiku. Kubalas tatapan matanya. Wajah tulus sahabatku baikku itu memancar dibalik kerudung cokelat yang dikenakannya.
Aku berdehem berat. “sa... percayakah kamu kalau aku bilang, ada Ibu yang tak pernah mencintai anaknya?
Nisa menatapku bingung, pertanyaan ini mungkin aneh ditelinganya. Apa lagi aku tahu keluarganya adalah keluarga terhangat yang pernah kutemukan. Ibu nisa tak hanya bijaksana tapi juga selalu melimpahinya dengan banyak kasih dan perhatian, Jauh sekali bila dibandingkan dengan Ibuku!
Aku rasa, mencintai adalah naluru yang muncul otomatis saat seseorang menjadi Ibu, pik! Itu karunia yang Allah berikan rasa kasih, mengayomi dan melindungi!” jawah Nisa hati-hati
Aku mengalihkan pandangan dari matanya. Kami sudah tinggal satu kost selama hampir 5 tahun tapi, tak pernah sekalipun aku bercerita tentang Ibu dan ketidakadilan yang diberikan wanita itu.
Yahhhh... sudah selama 5 tahun juga aku tak pernah menjenguk Ibu, yahh.. tidak sekali pun! Meski batinku terasa kering. Bagaimana pun aku punya kasih yang ingin kupersembahkan pada wanita yang telah melahirkanku itu. Tapi Ibu tak pernah menangkap sinar kasi di mataku, Ibu tak pernah peduli!
Bagaimana aku tidak mulai membencinya secara perlahan? Mungkin tidak dalam artian kata benci yang sesungguhnya. Terus terang aku mulai menghapus namanya dalam kehidupanku. Dalam tahun-tahun yang telah kulalui aku hanya mengirim surat dan foto pada semua kakak dan keponakanku. Tak satu pun kulamatkan untuk Ibu. Kalau pun secara rutin kusisihkan uang honar menulisku untuk Ibu, itu pun tak pernah kukirimkan secara langsung, selalu lewat salah satu kakakku.
Aku belajar menyingkirkan kebutuhanku akan kasih sayang dan sikap keibuan darinya. Aku belajar....... melupakan Ibu!!.
Upikk... kenapa kamu menanyakan itu?” suara nisa kembali terdengar, batinku makin kisruh.
Apa pendapatnya kalu tahu, teman baiknya selama ini telah melupakan ibunya? Padahal dalam Islam tertera jelas keutamaan untuk bebakti dan menghormati Ibu.
Bukan aku tak mencintainya tapi sepertinya itu kehendak Ibu sendiri untuk dilupakan.
Ibuku sakit, sa! Apa yang harus kulakukan?” tanyaku tanpa daya.
Nisa tersenyum, “itu aja kok bingung! Barang kali dia kagen padamu. Tengoklah Ibu, pik! Eh... kapan terakhir kali kalian bertemu?”
“aku tak pernah pulang, sa. Sudah lima tahun!
Jawabanku membuat Nisa tersedat. Pantas ia kaget 5 tahun bukan waktu yang singkat.
kamu harus pulang secepatnya, pik. Biar aku yang memesan tiket kereta, dan jangan lupa bawa oleh-oleh untuk Ibumu”.
Tiba-tiba Nisa dilandan kesibukan dan kepanikan luar biasa. Seakan membayangkan mengunjungi Ibunya sendiri yang tak ditemuinya selama 5 tahun.
Sebelum Nisa pergi, aku menatapnya sekali lagi, “kamu yakin aku harus pulang, sa?” pertanyaanku hanya dibalas dengan senyum hangat.
Ahhh.... andai Nisa tahu, perempuan macam apa Ibuku itu, Beliau lebih keras dari karang, sa. Karang pun masih bisa terkikis air laut, tetapi Ibuku?
******
Rumah mungil kami tak pernah berubah, saat masuk ke dalam, kulihat ruangan tampak tidak serapi biasanya. Barang kali kehilangan sentuhan tangan Ibu. Mbak Sri bilang, setahun belakangan ini Ibu sering jatuh sakit. Akan tetapi Beliau tak mengizinkan mereka mengabarkan kepadaku.
(karena Ibu tak butuh kehadiranku, bisiku dalam hati)
Mbak Ayu yang melihat kecangunganku menjelaskan. “Ibu tak mau menggangu kuliahmu, pik!” aku tersenyum sinis mendengar perkataan kakak tertuaku, sejak kapan Ibu memikirkan kuliahku? Bukankah baginya anak perempuan Cuma akan ke dapur?
Mbak Mida yang lebih banyak diam pun menambahkan, “ibu sering bertanya pada kami pik, berkali-kali malah. Sudah tahun ke berapa kuliahmu? Berapa lama lagi selesai.
Tapi, aku merasa tak perlu diyakini lagi. Aku kenal Ibu dan selama menjadi anaknya tak pernah Ibu bersikap kasih padaku. Tidak sekali pun, aku yakin perkataan kakak-kakakku barusan semata-mata untuk menyenangi hatiku. Agar aku tak merasa sia-sia datang ke sini. Mereka pasti belum lupa petengkaran hebatku dengan Ibu lima tahun yang lalu. Petengkaran yang memantapkan hatiku untuk pergi.
Malam itu Ibu berkali-kali menumpahkan kalimat-kalimat pedasnya padaku. Tujuannya satu agar aku tak pergi.
Bagiku, sikap Ibu saat itu egois dan kekanak-kanakan. Sementara orang lain akan menyambut gembira berita berita keberhasilan anaknya meraih beasiswa, beliau malah sebaliknya. Tak tahukah Ibu, aku harus menyingkirkan ribuan orang untuk meraih prestasi ini.
Kucoba memulingkan telingga, tetapi kalimatnya tambah pedas tak berangsur surut.
pergi ke kota bagi perempuan macam kau pik, hanya akan membawa aib, tak ada tempat aman kecuali di kampung sendiri. Ibu tak ingin kau membuat malu keluarga”.
Astafirullah... ibu kira perempuan macam apa aku? Mulutku sudah setengah terbuka siap membantahnya, tetapi ketiga saudaraku mencegahnya.
jangan coba membantah! Kurang baik dan terpelajar apa si mimi? Lalu si Irah? Bahkan anak pak haji Tarjo? Pulang-pulang malah jadi perempuan jalang. Aku tak ingin punya anak jalang!.
Cukup! Aku tak bisa menahan kesabaranku. Darahku semakin mendidih mendengar kalimat-kalimat Ibu. Kalau saja Ibu cukup mengenalku, punya sedikit kepercayaan pada anaknya sendiri? Ibu Cuma percaya pada dirinya sendiri.
Saat ditinggal Bapak, yahhh.. bapak memang meninggalkan kami. Janjinya bahwa lelaki itu akan kembali dari kota dengan membawa perubahan pada nasib kami, tapi Cuma omong kosong. Disana Bapak justru menikah lagi. Dan Ibu yang merasa dirinya wanita paling sempurna, merasa sakit hati. Setelah itu semua yang berbau pembaruan dan kemajuan dimusuhinya habis-habisan.
Kutatap mata Ibu dengan sikap menantang. Suaraku bergetar saatt berkata-kata padanya.
seharusnya Ibu bangga padaku!seharusnya Ibu menyemangatiku. Bukan terus-terus mengejekku Buk! Sekarang Upik tahu mengapa Bapak meninggalkan Ibu!” kataku berani
Didepanku Ibu menatap mataku tajam, matanya diliputi kemarahan atas kelancanganku. “kenapa Bapak meningalkan Ibumu? Ayo jawab, kenapa?!!!” tantangnya.
Sia-sia usaha mbakku untuk mengerem mulutku. Dalam kemarahan, kulontarkan luka yang mungkin akan melekat selamnya di hati Ibu. “karena Ibu PICIK!!! Itu sebabnya!”
Kubanting pintu kamarku, dan mengurung diri semalaman. Menangis tapi batinku puas, telah kukatakan apa yang menurutku harus didengar Ibu.
Besok paginya, hanya berpamitan pada mbak-mbakku, aku pergi dengan bongkahan luka dihatiku, barangkali juga di hati Ibu, tapi aku tak mau peduli.
Saat aku mengenal Nisa dan teman-teman Muslimah lain. Baru kusesali sikapku, seharusnya aku tak bersikap sekasar itu pada Ibu. Meski begitu, penyesalanku tak menghapus perasaan ku yang kadung hampa terhadap Ibu. Aku masih tidak menyukai wanita yang melahirkanku itu.
******
Pik... Ibu sudah bangun.” Mbak Sri mengembalikanku dari kenangan masa lalu.
Kubuka pintu kamar Ibu, suara derit engsel yang berkarat terdengar. Kulihat Ibu terbaring lemah di dipan. Keperkasaanya selama ini nyaris tak tersisa. Tangan kurusnya mengajakku untuk mendekat.
Dibawah cahaya lampu teplok, kurayapi wajahnya yang penuh guratan-guratan usia. Ibu tampak begitu Tua.
“apa kabarmu, pik?” suaranya nyaris berupa bisikan.
“baik, Bu” suaraku terdengar datar begitu datar mewakili kehampaan perasaanku.
Ibu tak memandang kaget penampilanku, yang pasti merupakan pemandangan baru baginya. Atau Ibu terlalu sakit untuk mencela busana Muslimah yang kukenakan? Sekali lagi hatiku berkomentar sinis, tanpa bisa dicegah.
“kamu kelihatan kurus,pik!!” ujar Ibu setelah beberapa saat kami terdiam.
Aku tak menangapi, sebaliknya mataku mengintari ruangan kecil itu. Semuanya hampir tak berubah. Kenapa Ibu bertahan dengan keserdehanaan ini? Bukankah dengan ternak-ternak itu Ibu mampu hidup lebih layak? Belum lagi ketigga mbakku mustahil mereka tidak memberikan tambahan masukan, biar pun sedikit, untuk Ibu.
Aku memperhatikan ranjang Ibu. Kasur tipis diatas dipan yang pasti tak nyaman untuknya. Cahaya penerangan pun tak memadai, padahal dirumah ketigga saudaraku sudah diterangi cahaya listrik. Lalu..... uang kirimanku yang rutin meski tak seberapa, mestinya cukup untuk meringankan Ibu, Tapi kenapa?
Kulihat meja jati tua disamping Ibu. Ada beberapa botol obat disana, kertas-kertas dan beberapa foto yang dibingkai. Kudekatkan tubuhku untuk melihat lebih jelas. Mendadak mataku nanar..... masya Allah! Aku tak sanggup berkata-kata segera kutahan tubuhku untuk tidak menangis.
Ibu yang menyadari arah pandanganku, menjelaskan, “jangan salahkan mbak-mbak mu pik.. Foto-foto itu Ibu yang maksa minta. Kadang ibu pandangi kalau ibu kangen kamu. Lihat itu pasti kamu masih tingkat satu, ya? Belum pakai jilbab! Yang lainya sudah rapih berjilbab.
Kulihat Ibu tersenyum. Dimatanya ada kerinduan yang mendalam. Batinku kembali terguncang. Ibu kangen padaku? Betulkah? Apa yang membua Ibu begitu berubah? Usia tuanyakah? Waktu lima tahunkah? Hatiku terus bertanya-tanya. Kemana larinya sikap keras dan ketus Ibu?..
tolong Ibu pik,, Ibu ingin duduk di beranda” pintanya sekonyong-konyong.
Kupapah tubuh ringkihnya keluar. Diatas sana langit mulai gelap, beberapa bintang meramaikan rembulan yang mulai muncul. Langit jingga tampak berbias indah menyambut malam.
Bersisian kami duduk diberanda. Beberapa waktu berlalu dalam keheningan. Tanpa kata-kata, tapi bisa kulihat wajah Ibu tampak cerah menatap langit yang dihias purnama. Lalu.....
Yu... Ayu ....” tergopoh-gopoh mbakku muncul mendengar pangilan Ibu. “ tolong ambilkan kotak kayu Ibu di bawah tempat tidur, ya...”tak lama mbak Ayu telah muncul kembali. kotak kayu yang terlihat amat tua diserahkanya pada Ibu.
“bukalah Pik, ini untukmu. Ibu selalu takut tak sempat memberikanya langsung padamu, Ibu sudah tua, pik” suara Ibu. Sedangkan matanya masih menatap langit.
Meski tak mengerti, kuturuti juga permintaan orang tua itu. Dan tanpa bisa kucegah, mataku tebelalak melihat isinya. Uang! Di mana-mana Uang! Begitu banyak, dari mana Ibu mendapatkanya?.
Ibu terkekeh sendiri melihat keterkejutanku, beberapa giginya yang sudah ompong terlihat. “Ini untukmu, pik”
Aku tutup kembali kotak kayu itu, kuserahkan pada Ibu. “Upik ndak butuh Uang Buk, beberapa tahun ini upik sudah ada kerja sambilan. Jaga toko sambil nuli-nulis” ujarku berusaha menolak.
“Ibu tahu, Ibu baca surat yang kau kirimkan pada mbak-mbakmu... tapi ini uangmu. Kau membutuhkanya. Mungkin tak lama lagi.” Suara Ibu memaksa.
“Ahh.... Wisudahku... itu kah yang Ibu pikirkan?” Wisudah tak butuh biaya sebanyak ini Buk....” tolakku lagi.
“tapi kau harus menerimanya pik, ini uangmu, uang yang kau kirimkan, sebagian juga ada hakmu dari penjualan ternak” jelas wanita itu lagi.
Aku melongok. Teringat dipan tua yang kasurnya tipis, lampu teplok, kursi diruang tamu yang sudah jelek dan bufet yang kusam. Bukankah dengan uang itu Ibu bisa hidup layak?
“kenapa tak Ibu pakai untu keperluan Ibu? Tanyaku heran
Ibu hanya tersenyum. Matanya mencari-cari rembulan yang setengah tertutup awan. “ Ibu tak butuh uang sebanyak itu, pik. Lagi pula Ibu khawatir tak dapat lagi memberimu uang”.
“upik kan sudah jelaskan ke Ibu, Upik sudah bisa mencari uang sendiri meski sedikit-sedikit. Ibu tak perlu repot memikirkan aku.”ujarku keras kepala.
Tapi lagi-lagi Ibu memaksaku” kau akan membutuhkannya Pik, untuk pernikahanmu nanti. Lihat semua mbakmu hidup sederhana. Anak mereka banyak, mungkin tak kan bisa banyak membantumu jika hari itu tiba!”
Dek! Hatiku gemetar untuk pernikahanku? Sejauh itukah Ibu memiirkanku?
Kata-kata Ibu berikutnya bagai telaga sejuk mengaliri relung-relung hatiku.
“maafkan Ibu jika selama ini keras padanu... kau benar... Ibu memang picik! Itu karena Ibu tak ingin kau terluka, kecewa, itu sebabnya Ibu tak pernah memujimu. Kau harus punya hati sekeras baja untuk menapaki hidup. Ibu ingin anak bungsu Ibu menjadi sosok yang berbeda, seperti rembulan merah jambu, bukan kuning keemasan seperti yang biasa kita lihat.
Ibu menunjuk purnama yang benderang, aku mengikutu telunjuknya. Batinku terasa lebih segar.
Rembulan merah jambu... itukah yang dinginkan Ibu, menjadi seseorang, menjadi orang dalam arti sebenarnya. Punya karakter dan prisip yang berbeda. Siap mengarungi kerasnya hidup? Itukah maksud Ibu dari sikap kerasnya selama ini.
Hatiku berbunga-bunga. Semua kehampaan, kebencianku, kekesalanku pada wanita tua itu tiba-tiba terbang ke awan. Aku tak lagi membencinya, ternyata aku cukup punya arti di mata Ibu. Aku rembulam di mata Ibu, aku rembulan dihatinya. Tanpa ragu , kupeluk Ibu erat.
Bersama-sama, kami menghabiskan waktu yang tak terlupakan diberanda memandangi langit, dan.... rembulan kini menjadi merah jambu dalam pandanganku.

0 komentar:

Posting Komentar